Sobat pernah dengar kisah yang satu ini:
Ada
seorang Nabi yang telah beribadah terus-menerus selama 50 tahun. Kemudian Allah
mewahyukan padanya bahwa sesungguhnya Allah telah mengampuninya.
Nabi
itu malah berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau harus mengampuni aku sedang
aku tidak pernah berbuat dosa sama sekali?"
Lalu
Allah memerintahkan sebuah urat dan didenyutkanlah padanya. Semalaman ia tidak
bisa tidur, sehingga datanglah Malaikat pagi dan dia mengadukan kepada malaikat
tersebut mengenai denyutan urat itu.
Malaikat
tersebut berkata: "Sesungguhnya ibadah 50 tahun tidak bisa mengimbangi
keluhan atas urat itu."
Masyaa
Allah. 'Hangus' deh ibadahnya selama 50 tahun hanya karena satu keluhannya.
Kisah
tersebut bisa Sobat baca sendiri dalam
buku "Di Balik Ketajaman Mata Hati" karya Imam Al Ghazali. Apa
pendapat Sobat mengenai kisah tersebut?
Kalau
orang yang bersikap pesimis, sudah pasti akan bete baca kisah di atas.
"Whaatt? Ibadah 50 tahun berturut-turut gak sepadan dengan sebuah keluhan?
Aje gile. Mending sekalian gue ga usah ibadah aja dah." (Walahh... Salah
kaprah ini)
Sedangkan
kalau orang yang optimis, cara pandangnya berbeda 180 derajat Sob dalam
menanggapi kisah tersebut. Orang optimis dan positif akan menanggapi begini:
"Whaatt?
Kalo gitu ceritanya, berarti tiap gue bisa nahan untuk tidak mengeluh,
seolah-olah gue udah ibadah lebih dari 50 tahun doong! Wah, enak bener... Kalo
gitu gue sanggup dah nggak ngeluh, daripada musti ibadah 50 tahun
berturut-turut." Ahayy!
Tapi,
apa bener menahan diri dari keluhan itu gampang Sob? Beuh... Siapa bilang
gampang?
Kita
cuma kelamaan nunggu angkot lewat aja udah mengeluh. Langsung update status di
FB en BBM, "Amit-amit dah sopir angkot lama bener sih lewatnya, gue udah
gerah tauk!" Itu udah terhitung satu keluhan. (Wow, sering banget yaah
kita begini)
Begitu
kepala terasa cenut-cenut sedikit aja, langsung deh ngomong ke semua orang.
"Kepala gue serasa mau pecaah!" (sering jugaa)
Pas
dapat pendamping hidup gak sesuai dengan keinginan, kita ngeluh lagi. "Huuff...
Kenapa sih Allah ngasih gue jodoh kayak gini, udah jelek, miskin, tukang ngomel
pula!"
Orangtua
nyuruh kita ini-itu, kita ngedumel, ngeluh.
Lagi
seru-serunya nonton sepak bola, tiba-tiba mati lampu. Byaarr pett. Kita ngeluh
juga.
Pulang
ke rumah tiba-tiba hujan turun deras, kita ngeluh lagi.
Cape
deeh. Tiada hari tanpa keluhan. Ampyuun, segitu susahnya lho nahan untuk tidak
mengeluh Sob. Terang aja kalau Allah memadankan ibadah 50 tahun dengan 1
keluhan.
Padahal
kalau kita mau merenung, nikmat Allah yang mana sih yang bisa kita dustakan?
Kalau setiap nafas yang kita hirup, setiap tetes darah kita yang mengalir, dan
setiap helai rambut yang tumbuh di kepala kita, oleh Allah diberi tarif. Wow...
Berapa Trilyun kah utang kita pada Allah?
Lha
kita aneh bener kan... sudahlah 'ngutang' bersyukur atas kenikmatan yang Allah
berikan, eeh... begitu dikasih sedikit kesulitan aja langsung ngeluh. Apakah
pantas Allah menerima komplain dari kita atas kehendak-Nya?
Masih
di buku karya Imam Al Ghazali, tercantum sebuah hadits Qudsi: Allah Swt.
Berfirman, "Barang siapa yang tidak puas dengan ketentuan-Ku, dan tidak
bersyukur kepada pemberian-Ku, hendaklah dia mencari Tuhan selain Aku."
Astaghfirullah,
Sobat ... Gak main-main ternyata yang namanya keluhan itu. Dengan mengeluh
berarti kita tidak menerima Qadha Allah, dengan mengeluh berarti kita tidak
beriman pada firman Allah yang menyatakan bahwa Ia yang paling mengetahui
segala sesuatu, termasuk yang terbaik untuk diri kita.
Tidak
peduli apapun keadaan kita saat ini, itulah yang terbaik untuk kita. Entah itu
jenis kelamin kita, kondisi orangtua kita, warna kulit kita. Semuanya adalah
ketentuan yang terbaik Allah beri untuk diri kita. Tentu saja ada pengecualian
untuk hal-hal yang masih diperbolehkan kita ubah dengan usaha, misalnya kalau
kita miskin yaa musti bekerja keras dan cerdas biar bisa jadi kaya. Kalau kita
bodoh, kita diharuskan belajar biar jadi pintar.
So,
kita musti berjuang untuk tidak gampang mengeluh nih Sob. Apa yang bisa kita
lakukan untuk melawan godaan keluhan?
1.
Berteman dengan orang-orang yang tidak suka mengeluh.
Ini
berpengaruh cukup signifikan, kalo temen-temen deket kita pada alay, lebay dan
doyan ngeluh, kita pasti ketuleran.
2.
Segera beristighfar begitu mengeluh
Satu
dosa bisa dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan, termasuk dengan zikir. Makanya
jangan pelit zikir yuk Sob. Bukan Allah yang perlu disanjung en dizikirin sama
kita kok, sebaliknya... Kita yang butuh mengingat dan memuji-Nya.
3.
Sadar bahwa mengeluh tidak menambah nikmat sama sekali, dan mengeluh juga tidakmengurangi
penderitaan. Dijamin 100%!
Ada
gitu orang yang ngeluh, "Duuh bokap gue pelit amaat..." trus
tiba-tiba bokapnya jadi dermawan? Nggak kan? Jadi mengeluh tuh gak mengubah
apapun jadi lebih baik toh?
4.
Mengeluh Sebagian Dari Kufur
Wadduh,
kalau kita mengeluh, berarti kita mengingkari nikmat Allah yang ada pada diri
kita. Soalnya kalau kita ngeluh tuh seolah-olah penderitaan yang Allah kasih
lebih banyak dari kenikmatan yang Ia beri. Padahal kenikmatan satu bola mata
yang Allah beri untuk kita saja tidak bisa kita bayar dengan beribadah seumur
hidup kita Sob.
5.
Ketika mengeluh, iringi dengan bersyukur
Emang
bisa? Yaa bisa aja. Namanya ngeluh kan kadang nggak bisa dikontrol. Misalnya
kaki kita ketiban rak buku, otomatis kita bakal ngejerit kan?
"Wadaaauww... Amit-amit sakiiit bangeeets." Trus kita nyadar kalau
itu ngeluh, tambahin deh, "Alhamdulillah cuma ketiban rak buku, bukan
kelindes kontainer..." Jadi ngeluh dan syukurnya minimal imbang gitu loh
Sob.
Asal
mau berusaha menghindari keluhan atau 'menibannya' dengan kesyukuran, Allah
pasti memberi nilai untuk upaya kita.
Semoga
Allah memudahkan kita untuk bersyukur dan menyulitkan kita untuk mengeluh.
Aamiin.
Sumber : annida-online.com