Selasa, 30 Oktober 2012

Kematian Hati


Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.
Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.
Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.
Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.
Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.
Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”

Ustadz (alm) Rahmat Abdullah
Read more »

Senin, 29 Oktober 2012

Ngapain Ngiri


Ada seekor siput selalu memandang sinis terhadap katak. Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran akhirnya berkata kepada siput: “Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?”
Siput menjawab: “Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, Tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah dengan lambat, jadi saya merasa sangat sedih dan tidak adil.”
Katak menjawab: “Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami (katak).” 
Dan seketika, ada seekor elang yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak dimangsa oleh elang.

Sobaterz, pernahkah merasa seperti siput? Melihat orang lain yang 'lebih beruntung' rasanya hidup kita kok ya ngenes banget, gak adil, orang bisa dengan mudah beli tiket konser boyband yang harganya nyampe jutaan, sedangkan kita mikirin harga tiket kereta naik 2000 perak aja udah puyeng. 
Orang lain bisa gonta-ganti hape, gonta-ganti motor, udah kayak gonta-ganti baju, sedangkan kita gonta-ganti menu makan aja udah mewah bener.
Tapi yakin deh seyakin-yakinnya Sob, bahwa Allah Maha Adil! Kita tidak bisa lihat 'penderitaan' orang lain, karena banyak orang yang menutupi penderitaannya dengan senyuman, dengan make up tebal, dengan topeng, dengan foto-foto tertawa lebar, jadi kita hanya bisa melihat kebahagiaan mereka. Kita tidak tau cerita duka di balik itu.
Lha... sedangkan kita malah mengumbar penderitaan kita dengan keluhan, jadi... kita cuma tau diri sendiri sebagai orang paling menderita sedunia, gak bisa lihat bahwa sebenarnya ada banyak 'keberuntungan' yang kita miliki dibandingkan dengan orang lain. 
Jangan sampai kita baru berhenti 'iri' setelah melihat 'katak dimangsa elang!' Misal, kita iri ngeliat temen kita yang tajir, tapi begitu tau bapaknya dipenjara kena kasus korupsi, baru deh kita gak ngiri lagi sama dia, malah berbalik jadi kasian... Atau, Kita ngiri sama artis-artis Korea yang cantiik, sempurna, multitalented eeh... gak taunya bunuh diri karena depresi. Masih berani ngiri?
Sobaterz, gak perlu mandang sinis pada kebahagiaan orang lain karena kita gak tau penderitaan di baliknya! Dan juga... gak perlu ngumbar penderitaan kita sebagai alasan boleh ngiri ke orang lain, soalnya di balik penderitaan itu biasanya terkandung banyak hikmah yang bisa jadi belum kita pahami saat ini, tapi suatu hari nanti justru kita syukuri...
So, ngapain ngiri?

Sumber : www.annida-online.com
Read more »

Kamis, 18 Oktober 2012

SAAT KEJUJURAN DITERTAWAKAN


Sebenarnya tulisan ini udah lama ingin gue buat. Cuma karena banyaknya kesibukan sehingga nggak kesampaian terus buat nulisnya. Lagipula saat itu gue dalam keadaan emosi. Gue pikir kurang baik menuangkan suatu pemikiran dalam keadaan emosi.
Sobat, saat gue menulis ini nggak ada kepikiran buat menyombongkan diri dengan berkata gue nih orang jujur, dan elo nggak jujur. Nggak ada! Sejujur-jujurnya gue bilang gue masih jauh dari predikat orang jujur. Kadangkala sebagai manusia gue juga sering khilaf. Tapi yang jelas, gue percaya kalo jujur itu adalah suatu kebenaran. Dan kebenaran musti ditegakkan dan diperjuangkan. Gimanapun, nggak peduli elo dibenci dan dimusuhi, atau bahkan dibunuh. Karena gue percaya mati dalam kebenaran jauh lebih baik daripada hidup aman dalam kemunafikan. Ah, jadi kebanyakan ngelanturnya, jadi malah lupa apa yang pengen ditulis tadi….
Sobat, pernahkah kalian nyontek saat ujian? Gue pernah, dulu, saat gue masih belum begitu paham akan islam. Tapi kini insya Allah nggak lagi. Hey, kenapa pandangan kalian jadi berubah kayak gitu! Kalian nggak percaya, atau kalian nganggap tidak menyontek adalah suatu hal yang aneh? Maka bila kalian berpikir demikian, maka sungguh kalianlah yang aneh.
Trus pernahkah kalian menyontekkan hasil jawaban kalian ke orang lain? Kembali sorotan mata tajam terarah ke gue. Mata sinis itu, dan cemoohan itu. Yep, karena itulah gue jadi bela-belain menuliskan tulisan ini.
Sobat, gue selalu aja menghindar kalo saat ujian ada temen yang nanya atau minta dicontekin. Gue selalu pura-pura cuek, atau cari-cari alasan yang pada intinya menolak memberikan contekan. Agak risih memang dan rasanya emang nggak enak menolak permohonan teman. Hingga akhirnya suatu ketika pada saat ujian, seorang teman mencak-mencak, karena gue nggak mau mencontekin jawaban ujian gue. Saat itu, asli, perasaan gue nggak menentu. Gue tumpahkan kekesalan gue ke teman-teman yang lain. Gue bilang gue tetap pada pendirian gue, gimanapun gue ingin berpegang teguh pada prinsip, bahkan gue bilang gue berani mati demi prinsip tersebut. Nggak nyangka, respons dari teman gue malah ngetawain pendapat gue, padahal gue saat itu betul-betul serius. Asli, hati gue saat itu terluka dan dangan majas hiperbola gue katakan hati gue remuk berkeping-keping. Bukan! Bukan karena guenya yang ditertawakan. Gue sakit hati karena mereka mentertawakan kejujuran! Mentertawakan kebenaran!!
Sobat, Allah memerintahkan kita berbuat jujur. Banyak ayat AlQur’an dan hadits yang menunjukkan demikian. bahkan dalam suatu hadits, Rasululullah mengatakan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Nggak hanya itu, Allah juga mengharamkan perbuatan curang. Karena itu musti kita pahami bahwa ketika kita berbuat jujur, semata-mata karena itu adalah perintah Allah, bukan karena adanya standar manfaat dari kejujuran tersebut. Sepakat?!
Selain itu Allah juga memerintahkan kita tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan melarang kita tolong-menolong dalam berbuat keburukan. Firman Allah:
“Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam keburukan dan dosa” (QS AlMaidah:2) 
Dari ayat di atas jelas, bila itu perbuatan keburukan baik yang menolong maupun yang ditolong memiliki status yang sama, sama-sama berdosa.
Makanya gue berprinsip mencontekkan orang lain sama dosanya dengan mencontek itu sendiri. Bahkan bisa jadi memberi contekan dosanya lebih besar. Karena dengan memberi contekan, kita telah memberi kesempatan orang lain untuk berbuat dosa.
“Ah, berlebihan loe. Contek-mencontek aja dibikin masalah. Gue rasa perbuatan itu wajar-wajar aja. Loe sendiri juga pasti pernah mencontek!!” mungkin ada diantara kalian yang berpikiran kayak gitu.
Sobat, gue rasa penuturan gue nggak berlebihan. Mencontek gue rasa adalah suatu masalah yang nggak bisa dianggap sepele. Ketika guru atau dosen telah memberikan ujian dan mengakadkan tidak boleh mencontek, buka buku dan lainnya, maka apabila kita mencontek maka kita jelas telah berbuat tidak jujur dan telah curang. Beda halnya bila akad awalnya memang diperbolehkan mencontek. Sehingga dalam hal ini haramnya mencontek sama aja status haramnya dengan daging babi, haramnya berzina, atau haramnya membunuh. Karena dalam islam nggak dikenal istilah sedikit haram, agak haram, atau sangat haram. Pokoknya kalau Allah telah melarang sesuatu, nggak ada alasan buat kita memilih-milihnya atau membuat skala prioritasnya. Jadi sekali lagi sama sekali nggak berlebihan!
Trus yang bilang contek mencontek adalah wajar-wajar aja…, maka inilah jawaban gue: Apakah hanya karena banyak orang yang melakukan, dan itu sudah jadi tradisi, maka kita dengan seenaknya menganggap itu sebagai hal yang wajar. Trus seandainya suatu ketika zina menjadi tradisi, maka dengan entengnya kita juga bakal menyebutnya sebagai sesuatu yang wajar. Apakah karena banyak orang yang melakukan maka itu menjadi legitimasi terhadap kebenaran perbuatan tersebut. Nggak sobat, perbuatan yang haram nggak boleh dianggap wajar. Adalah kurang ajar bila kita memberikan predikat wajar pada sesuatu larangan Allah.
Kemudian tentang gue sendiri pasti pernah mencontek…. Bukankah diawal-awal sudah gue tegaskan: iya, gue pernah mencontek. Tapi gue berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak lagi mencontek atau mencontekkan. Lagipula, apa jika gue juga seorang pencontek maka status hukum mencontek akan berubah, atau apakah itu akan jadi legitimasi bagi loe buat mencontek juga. Betapa naifnya elo bila begitu….
“Sebentar… sebentar… perbuatan tidak jujur kan tidak hanya mencontek…. Nah, gue juga pernah ngeliat elo misalnya berdusta, atau berbuat curang….”
Yup, seratus buat loe! nggak cuma masalah contek-mencontek. Tapi gue pengen aja nulis panjang lebar tentang masalah itu. Mengenai gue, di awal-awal gue kan udah bilang (aduuuh! Baca lagi dah mulai awal) kalo gue masih jauh dari predikat sebagai orang jujur. Kadang gue juga khilaf, misalnya berbohong dan lain sebagainya. Cuma gue yakin akan kebenaran, kalo gue tidak jujur Allah benci ama gue, dan gue bakal disiksa ntar di akhirat dan kalo gue jujur Allah bakal ridla ama gue. Jadi sedapat mungkin gue belajar jadi orang jujur. Dan gue rasa nggak salah kalo dalam keadaan yang masih jauh dari kesempurnaan ini, gue mengajak orang lain untuk berbuat jujur. Terus terang gue kurang sependapat dengan pernyataan yang bilang jangan mendakwahi orang kalo elo sendiri belum sempurna. Lihat diri loe dulu dong! Nah, kalo semua orang berpikir kayak gitu maka risalah islam ini hanya sampai di segelintir orang seperti sahabat-sahabat Rasul aja. Soalnya semua orang merasa dirinya tidak sempurna dan tidak pantas untuk berdakwah.
Kalo makai perasaan emang sulit. Terkadang kita berada dalam kondisi kepepet. Kalo nggak mencontek bisa-bisa nilai kita hancur dan nggak lulus. Trus misalnya kalo tidak memberi contekan kita bakal dimusuhi, nggak enak sama teman, dibilang sombong atau mau pinter sendiri, atau macem-macem. Ya..itu tadi, seperti kasus yang gue ceritain di awal, teman gue yang nggak gue contekin mencak-mencak (Padahal sebenarnya kalo dia tahu, gue sendiri saat itu dalam keadaan ‘blank’ hanya sedikit yang bisa gue jawab, sisanya kosong atau kalo terisipun jawabannya asal). Tapi percayalah sobat, semua hal diatas: nilai hancur, nggak lulus, dibilang sombong, dimusuhi… nggak ada artinya bila dibandingkan dengan murka Allah bila kita berbuat sesuatu yang dilarang-Nya. Terlalu tidak berharga apabila kita menjual keyakinan kita hanya untuk seonggok kenikmatan dunia yang sesaat.
Sobat. Gue nggak terlalu berharap loe  bakal berubah. Gue juga nggak peduli apakah sehabis loe baca tulisan ini loe nyumpah-nyumpah atau ngetawain gue. Gue nggak peduli! Gue ikhlas kok. Yang jelas sekarang gue telah punya jawaban bila kelak di akhirat Allah menyidang gue “Ya Allah saksikanlah, hamba-Mu yang hina ini telah menyampaikan”. 

edited from : saveusgue.wordpress.com

Read more »

Eric ‘Bilal’ Abidal Meyakini Islam Sepenuh Hati


Kariernya di lapangan hijau kian moncer. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Eric Abidal. Ia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat FC Barcelona dan Timnas Prancis. Mei lalu, Abidal sempat menjadi pusat pemberitaan, ketika klub sepak bola terkemuka asal Italia, Juventus, berniat memboyongnya dari Barcelona.

Tak tanggung-tanggung, Si Nyonya Tua – julukan Juventus – siap mendatangkan Abidal ke Turin dari Barcelona dengan bonus striker David Trezequet. Namun, tawaran menggiurkan itu ditolak Barca. Abidal yang dikenal sebagai bek kiri, yang memiliki keunggulan dari aspek kekuatan fisik serta teknik, memutuskan tetap bermain di Barca.
Ia memperpanjang kontrak dengan Barca yang semula berakhir pada 2011. ”Buyout clause bagi Abidal adalah 90 juta euro,” demikian keterangan yang disampaikan Barcelona melalui situs resminya.
Abidal adalah salah satu pesepak bola dunia yang beragama Islam. Sejatinya, dia adalah seorang mualaf. Sang bintang memeluk agama Islam baru enam tahun terakhir. Terlahir di Lyon, Prancis, pada 11 September 1979, Abidal berasal dari keluarga imigran asal Afrika. Sebelumnya, Abidal merupakan seorang pemeluk agama Katolik.
Pertemuan dengan wanita yang kini menjadi istrinya telah mengantarkannya pada agama Allah SWT. Setelah menikah dengan Hayet Abidal, seorang perempuan asal Aljazair, Abidal memeluk agama Islam. Setelah mengucap dua kalimah syahadat, ia berganti nama menjadi Eric Bilal Abidal.
Kepada majalah Match yang terbit di Paris, Abidal mengatakan, agama Islam telah mendorongnya untuk bekerja keras untuk memperkuat timnya. ”Saya memeluk Islam dengan keyakinan penuh,” ujar ayah dua anak itu. Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat.
Ia tak pernah melupakan shalat. Terlebih lagi, di markas FC Barcelona, Camp Nou, masih ada dua pemain lainnya yang beragama Islam, yakni Seydou Keita dan Yaya Toure. Ketatnya jadwal pertandingan yang harus dilakoni, membuat Abidal sedikit terkendala saat menjalankan ibadah puasa secara penuh pada bulan Ramadhan.
Ramadhan lalu, Abidal memutuskan tak berpuasa ketika membela Barca. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan, sebagai komitmen terhadap profesionalitasnya sebagai pemain. Hal serupa sebenarnya juga dilakukan dua rekannya di El Barca, Seydou Keita dan Yaya Toure. Meski begitu, ketiganya mengganti puasa di lain hari, setelah Ramadhan berakhir.
Abidal memulai karier profesionalnya bersama klub sepak bola Prancis, AS Monaco, pada 16 September 2000. Ia sempat 22 kali menyandang ban kapten bersama Monaco. Setelah itu, dia pindah ke Lille OSC. Di klub inilah, dia bereuni dengan mantan pelatihnya, Claude Puel, dan 62 kali membela Lille.
Di akhir 2004, dia kembali ke kota kelahirannya dan bergabung dengan Lyonnais. Ia berhasil mengantarkan timnya meraih dua gelar di Ligue 1 berturut-turut selama dua musim. Selama kariernya di Prancis, dia dikenal sebagai salah satu bek terbaik di Ligue 1. Di Lyon, dia bermain bersama kiper Gregory Coupet, Francois Clerc, dan Anthony Reveillere serta dua pemain Brasil, Cris dan Cacapa.
Pada 30 Juni 2007, Abidal hengkang ke Barcelona dengan nilai transfer 15 juta euro. Di Camp Nou dia memakai nomor punggung 22. Sejak itu, Abidal menjadi pemain pilar Barca. Nilai kontrak Abidal mencapai 90 juta euro dengan klausal pelepasannya, dan Lyon akan menuai bonus sebesar 500 ribu euro jika Barca meraih gelar Liga Champions untuk empat tahun ke depan. Dan, itu terjadi setelah Barca berhasil mengalahkan Manchester United di Roma.
Motivasi Sang Istri
Istri adalah motivator utama bagi suami. Hal itu sangat dirasakan betul oleh bek kiri tim nasional Prancis dan FC Barcelona, Eric Abidal. Kesuksesannya merumput di lapangan hijau tak lepas dari peran sang istri. Motivasi dan dukungan penuh yang dipompa sang istri, Hayet Abidal, telah membuat peformanya saat memainkan si kulit bundar bertambah maksimal.
”Bagiku, dia (Hayet) adalah sebuah permata. Dia juga pemegang kemudi yang sangat menakjubkan. Saya beruntung mendapat perempuan seperti dia, yang sanggup memberikan arahan dan pendapat yang logis sebelum aku memutuskan hal krusial, termasuk dalam memilih karier,” ungkap Abidal seperti ditulis France Football.
Abidal mengakui, kepindahannya ke Barcelona tak terjadi begitu saja. Saran ‘magis’ sang istrilah yang mampu menggerakkan hatinya untuk mencoba peruntungan di negeri Matador. Betapa tidak, tanpa harus pindah ke Barcelona pun, Abidal telah memiliki segalanya di Prancis. Tetapi, di mata sang istri, semua itu belum sempurna. Satu-satunya cara, menurut sang istri, Abidal harus berkarier di klub luar negeri.
Hayet mendorongnya untuk bergabung bersama Barcelona. ”Aku ingin suamiku tak hanya terpaku bermain di klub sepak bola Prancis. Penting bagi kami untuk menyiapkan masa depan, terutama setelah ia pensiun nanti. Jadi, berkenalan dengan banyak orang di mancanegara memberi banyak keuntungan. Nantinya, kami bisa menjalin relasi bisnis ataupun kerja sama apa yang saling menguntungkan,” ujar Hayet, yang memang terkenal memiliki insting bisnis tinggi itu.
Besarnya peran Hayet dalam kehidupan pribadi Abidal sudah dibuktikan sejak mereka menikah. Usai menikah, Abidal memilih memeluk Islam setelah mendapat bimbingan intensif dari sang istri yang asli Aljazair. ”Semua berlangsung alami. Pilihan memeluk agama Islam bukan karena faktor istriku, tapi sebuah hadiah yang tiba-tiba saja muncul. Itu benar-benar terjadi apa adanya. Mengalir begitu saja dan membuatku merasa bahagia,” ungkap Abidal.
Meski dikenal sebagai seorang Muslim yang taat, Hayet juga sangat dekat dengan dunia entertainment. Bedanya, dia sangat pandai membagi peran dan penampilan. Ia tahu saat harus mengenakan busana sopan dan kapan harus mengenakan gaun indah. ”Saya seperti istri pesepak bola lain. Bedanya, saya tak suka berfoya-foya atau larut di dunia malam. Lebih indah jalan-jalan bareng Abidal dan belanja bersama,” tutur Hayet.
Pertemuan Abidal dengan sang istri terjadi ketika ia masih remaja. Kedua sejoli ini kemudian memutuskan untuk menikah pada Juli 2003 silam. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua orang putri, yakni Meliana yang lahir pada 2004 dan Canelia lahir tahun 2006.


Sumber : kisahmuallaf.wordpress.com

Read more »

Bukan Masalah yang Besar, tapi Kita yang Kecil


Sobat, kita perlu was-was lho kalau merasa sedang menghadapi masalah besar. Jangan-jangan bukan masalahnya yang besar, melainkan jiwa kita lah yang terlalu kecil!
Pernah dengar kisah tentang seorang bijak dengan segenggam garam? Ceritanya begini Sob, konon ada seorang pemuda yang mengeluh pada orang bijak. Sang pemuda merasa galau, impiannya tak kunjung tercapai, karirnya berantakan, persoalan cintanya pun kandas, ia merasa persoalan hidupnya terlalu pelik dan berat (mellow banget deh…)
Nah, bukannya menanggapi keluhan si pemuda, orang bijak tersebut malah menuangkan segenggam garam ke dalam segelas air, lalu menyuruh sang pemuda mengaduk dan mencicipi air garam tersebut. Kontan saja si pemuda menyatakan bahwa air tersebut terasa asin dan pahit!
Kemudian, si pemuda diajak pergi ke sebuah telaga, orang bijak tersebut kemudian menuangkan segenggam garam ke dalam telaga, mengaduk-aduk air telaga dengan sebilah kayu, setelah itu ia meminta sang pemuda untuk mencicipi air telaga tersebut. Kali ini sang pemuda menyatakan bahwa air yang diminumnya terasa segar. Orang bijak pun tersenyum dan berkata…
"Anak muda, dengarlah… Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.Tetapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Hatimu adalah wadah itu. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan!"
Beuh, mantab yah Sob nasehat orang bijak di atas? Tapi, dijamin… prakteknya seribu kali lebih susah daripada sekedar ngomong, tul gak? Setiap ketemu masalah, sering kali hati kita terasa menyempit, susah tidur, mimpi buruk, minimal kepikiran terus masalah yang sedang dihadapi.
So, sedikit tips praktis berikut ini barangkali bisa menjembatani nasehat si orang bijak dengan ‘praktek di lapangan’:

1.          Begitu menemukan masalah, tetap bersikap tenang!
Ada orang-orang yang panik ketika mendapat masalah, alih-alih nyelesain masalah, sikap paniknya itu malah bikin masalah makin rumit. Gampang kok untuk tau apakah kita panik atau tenang, kalau masih bisa senyum padahal lagi hadapi masalah, berarti kita tergolong orang yang tenang.
2.          Jangan buru-buru beberin masalah kita ke banyak orang!
Kalau mau curhat, cukup cari satu orang yang kita anggap cukup bijak dan bisa menjadi penengah. Boleh kok cerita masalah kita ke banyak orang, tapi setelah ketemu jalan keluar, jadi orang lain bisa turut dapat inspirasi.
3.          Coba introspeksi diri!
Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik curiga dulu: Jangan-jangan gue-lah penyebab masalah ini timbul? Sikap menyalahkan pihak lain membuat diri kita seolah-olah korban dan enggan untuk introspeksi.
4.          Tanyakan: Apakah masalah ini bisa bikin gue lebih dekat dengan Allah atau malah lebih jauh?
Tiap masalah sebenarnya berpotensi mendekatkan diri kita pada Allah, Sob. Jangan sampe kita rugi: Udahlah dapet masalah, menjauh dari Allah pula. Padahal Allah merupakan sumber segala solusi. So, kalau ketemu masalah… mustinya zikir kita lebih banyak, shalat lebih khusyu, puasa lebih sering, agar hati kita lebih lapang, dan segenggam masalah yang ditabur dalam hidup kita tidak terasa terlalu ‘asin atau pahit’!
5.          Ingatkan diri sendiri: Allah tidak pernah membebani di luar batas kesanggupan kita!
Kalau kita mengimani ayat Allah yang satu ini, kita pasti tidak akan merasa masalah yang dihadapi terlalu berat atau terlalu besar. Bahkan kalau masalahnya memang benar-benar besar, kita harusnya merasa bangga… berarti Allah telah mengakui kita berjiwa besar yang sanggup menangani masalah besar!
6.          Pelajari cara orang-orang besar dalam menghadapi masalah!
Kisah para Nabi, sahabat, orang-orang sukses lainnya, mungkin bisa menginspirasi kita agar tidak melulu fokus pada masalah yang dihadapi, melainkan fokus menemukan jalan keluar!

Yakin deh Sob… sebenarnya gak ada masalah yang terlalu besar, barangkali jiwa dan hati kita yang masih kurang luas. So, yuk lapangkan hati kita agar sebanyak apapun ‘garam yang ditabur’, hanyalah menambah gurih dan sedapnya pengalaman hidup yang kita alami.

Sumber : annida-online.com
Read more »

Ngeluh!

Sobat  pernah dengar kisah yang satu ini:
Ada seorang Nabi yang telah beribadah terus-menerus selama 50 tahun. Kemudian Allah mewahyukan padanya bahwa sesungguhnya Allah telah mengampuninya.
Nabi itu malah berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau harus mengampuni aku sedang aku tidak pernah berbuat dosa sama sekali?"
Lalu Allah memerintahkan sebuah urat dan didenyutkanlah padanya. Semalaman ia tidak bisa tidur, sehingga datanglah Malaikat pagi dan dia mengadukan kepada malaikat tersebut mengenai denyutan urat itu.
Malaikat tersebut berkata: "Sesungguhnya ibadah 50 tahun tidak bisa mengimbangi keluhan atas urat itu."
Masyaa Allah. 'Hangus' deh ibadahnya selama 50 tahun hanya karena satu keluhannya.
Kisah tersebut bisa Sobat  baca sendiri dalam buku "Di Balik Ketajaman Mata Hati" karya Imam Al Ghazali. Apa pendapat Sobat  mengenai kisah tersebut?
Kalau orang yang bersikap pesimis, sudah pasti akan bete baca kisah di atas. "Whaatt? Ibadah 50 tahun berturut-turut gak sepadan dengan sebuah keluhan? Aje gile. Mending sekalian gue ga usah ibadah aja dah." (Walahh... Salah kaprah ini)
Sedangkan kalau orang yang optimis, cara pandangnya berbeda 180 derajat Sob dalam menanggapi kisah tersebut. Orang optimis dan positif akan menanggapi begini:
"Whaatt? Kalo gitu ceritanya, berarti tiap gue bisa nahan untuk tidak mengeluh, seolah-olah gue udah ibadah lebih dari 50 tahun doong! Wah, enak bener... Kalo gitu gue sanggup dah nggak ngeluh, daripada musti ibadah 50 tahun berturut-turut." Ahayy!
Tapi, apa bener menahan diri dari keluhan itu gampang Sob? Beuh... Siapa bilang gampang?
Kita cuma kelamaan nunggu angkot lewat aja udah mengeluh. Langsung update status di FB en BBM, "Amit-amit dah sopir angkot lama bener sih lewatnya, gue udah gerah tauk!" Itu udah terhitung satu keluhan. (Wow, sering banget yaah kita begini)
Begitu kepala terasa cenut-cenut sedikit aja, langsung deh ngomong ke semua orang. "Kepala gue serasa mau pecaah!" (sering jugaa)
Pas dapat pendamping hidup gak sesuai dengan keinginan, kita ngeluh lagi. "Huuff... Kenapa sih Allah ngasih gue jodoh kayak gini, udah jelek, miskin, tukang ngomel pula!"
Orangtua nyuruh kita ini-itu, kita ngedumel, ngeluh.
Lagi seru-serunya nonton sepak bola, tiba-tiba mati lampu. Byaarr pett. Kita ngeluh juga.
Pulang ke rumah tiba-tiba hujan turun deras, kita ngeluh lagi.
Cape deeh. Tiada hari tanpa keluhan. Ampyuun, segitu susahnya lho nahan untuk tidak mengeluh Sob. Terang aja kalau Allah memadankan ibadah 50 tahun dengan 1 keluhan.
Padahal kalau kita mau merenung, nikmat Allah yang mana sih yang bisa kita dustakan? Kalau setiap nafas yang kita hirup, setiap tetes darah kita yang mengalir, dan setiap helai rambut yang tumbuh di kepala kita, oleh Allah diberi tarif. Wow... Berapa Trilyun kah utang kita pada Allah?
Lha kita aneh bener kan... sudahlah 'ngutang' bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan, eeh... begitu dikasih sedikit kesulitan aja langsung ngeluh. Apakah pantas Allah menerima komplain dari kita atas kehendak-Nya?
Masih di buku karya Imam Al Ghazali, tercantum sebuah hadits Qudsi: Allah Swt. Berfirman, "Barang siapa yang tidak puas dengan ketentuan-Ku, dan tidak bersyukur kepada pemberian-Ku, hendaklah dia mencari Tuhan selain Aku."
Astaghfirullah, Sobat ... Gak main-main ternyata yang namanya keluhan itu. Dengan mengeluh berarti kita tidak menerima Qadha Allah, dengan mengeluh berarti kita tidak beriman pada firman Allah yang menyatakan bahwa Ia yang paling mengetahui segala sesuatu, termasuk yang terbaik untuk diri kita.
Tidak peduli apapun keadaan kita saat ini, itulah yang terbaik untuk kita. Entah itu jenis kelamin kita, kondisi orangtua kita, warna kulit kita. Semuanya adalah ketentuan yang terbaik Allah beri untuk diri kita. Tentu saja ada pengecualian untuk hal-hal yang masih diperbolehkan kita ubah dengan usaha, misalnya kalau kita miskin yaa musti bekerja keras dan cerdas biar bisa jadi kaya. Kalau kita bodoh, kita diharuskan belajar biar jadi pintar.
So, kita musti berjuang untuk tidak gampang mengeluh nih Sob. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan godaan keluhan?
1. Berteman dengan orang-orang yang tidak suka mengeluh.
Ini berpengaruh cukup signifikan, kalo temen-temen deket kita pada alay, lebay dan doyan ngeluh, kita pasti ketuleran.
2. Segera beristighfar begitu mengeluh
Satu dosa bisa dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan, termasuk dengan zikir. Makanya jangan pelit zikir yuk Sob. Bukan Allah yang perlu disanjung en dizikirin sama kita kok, sebaliknya... Kita yang butuh mengingat dan memuji-Nya.
3. Sadar bahwa mengeluh tidak menambah nikmat sama sekali, dan mengeluh juga tidakmengurangi penderitaan. Dijamin 100%!
Ada gitu orang yang ngeluh, "Duuh bokap gue pelit amaat..." trus tiba-tiba bokapnya jadi dermawan? Nggak kan? Jadi mengeluh tuh gak mengubah apapun jadi lebih baik toh?
4. Mengeluh Sebagian Dari Kufur
Wadduh, kalau kita mengeluh, berarti kita mengingkari nikmat Allah yang ada pada diri kita. Soalnya kalau kita ngeluh tuh seolah-olah penderitaan yang Allah kasih lebih banyak dari kenikmatan yang Ia beri. Padahal kenikmatan satu bola mata yang Allah beri untuk kita saja tidak bisa kita bayar dengan beribadah seumur hidup kita Sob.
5. Ketika mengeluh, iringi dengan bersyukur
Emang bisa? Yaa bisa aja. Namanya ngeluh kan kadang nggak bisa dikontrol. Misalnya kaki kita ketiban rak buku, otomatis kita bakal ngejerit kan? "Wadaaauww... Amit-amit sakiiit bangeeets." Trus kita nyadar kalau itu ngeluh, tambahin deh, "Alhamdulillah cuma ketiban rak buku, bukan kelindes kontainer..." Jadi ngeluh dan syukurnya minimal imbang gitu loh Sob.
Asal mau berusaha menghindari keluhan atau 'menibannya' dengan kesyukuran, Allah pasti memberi nilai untuk upaya kita.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bersyukur dan menyulitkan kita untuk mengeluh. Aamiin.
Sumber : annida-online.com


Read more »

Senin, 15 Oktober 2012

Scientist: Besi Bukan Diciptakan di Bumi, Melainkan Langsung Diturunkan Dari Langit




Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur’an. Dalam Surat Al Hadiid, yang berarti “besi”, kita diberitahu sebagai berikut :
“…dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (Al-Hadid, QS 57 : 25)

Kata “kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia.
Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.
Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.
Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri.
Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat.
Meteor besi, mempunyai komposit yang sama dengan yang ada di dalam inti Bumi dan di luar kerak Bumi
Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”.
Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.
Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.
Keajaiban dan keunikan besi bukan hanya sampai di situ saja.
Secara alamiah unsur besi mempunyai 4 isotop, yaitu 54, 56, 57 dan 58.
Yang stabil ada 3, yaitu 56, 57 dan 58.
Dari ketiganya Isotop 57 adalah satu-satunya yang punya nuclear spin.
Uniknya ini sesuai dengan urutan surat Al Hadid (besi) yang merupakan surat ke-57.
Sungguh Al Qur’an adalah petunjuk dan cahaya yang sangat terang. Maha Benar Allah SWT dengan segala firman-Nya.

Sumber : http://islamislogic.wordpress.com

Read more »

 

Baut

Oasis

Tapak Kecil