Kamis, 18 Oktober 2012

Bukan Masalah yang Besar, tapi Kita yang Kecil


Sobat, kita perlu was-was lho kalau merasa sedang menghadapi masalah besar. Jangan-jangan bukan masalahnya yang besar, melainkan jiwa kita lah yang terlalu kecil!
Pernah dengar kisah tentang seorang bijak dengan segenggam garam? Ceritanya begini Sob, konon ada seorang pemuda yang mengeluh pada orang bijak. Sang pemuda merasa galau, impiannya tak kunjung tercapai, karirnya berantakan, persoalan cintanya pun kandas, ia merasa persoalan hidupnya terlalu pelik dan berat (mellow banget deh…)
Nah, bukannya menanggapi keluhan si pemuda, orang bijak tersebut malah menuangkan segenggam garam ke dalam segelas air, lalu menyuruh sang pemuda mengaduk dan mencicipi air garam tersebut. Kontan saja si pemuda menyatakan bahwa air tersebut terasa asin dan pahit!
Kemudian, si pemuda diajak pergi ke sebuah telaga, orang bijak tersebut kemudian menuangkan segenggam garam ke dalam telaga, mengaduk-aduk air telaga dengan sebilah kayu, setelah itu ia meminta sang pemuda untuk mencicipi air telaga tersebut. Kali ini sang pemuda menyatakan bahwa air yang diminumnya terasa segar. Orang bijak pun tersenyum dan berkata…
"Anak muda, dengarlah… Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.Tetapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Hatimu adalah wadah itu. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan!"
Beuh, mantab yah Sob nasehat orang bijak di atas? Tapi, dijamin… prakteknya seribu kali lebih susah daripada sekedar ngomong, tul gak? Setiap ketemu masalah, sering kali hati kita terasa menyempit, susah tidur, mimpi buruk, minimal kepikiran terus masalah yang sedang dihadapi.
So, sedikit tips praktis berikut ini barangkali bisa menjembatani nasehat si orang bijak dengan ‘praktek di lapangan’:

1.          Begitu menemukan masalah, tetap bersikap tenang!
Ada orang-orang yang panik ketika mendapat masalah, alih-alih nyelesain masalah, sikap paniknya itu malah bikin masalah makin rumit. Gampang kok untuk tau apakah kita panik atau tenang, kalau masih bisa senyum padahal lagi hadapi masalah, berarti kita tergolong orang yang tenang.
2.          Jangan buru-buru beberin masalah kita ke banyak orang!
Kalau mau curhat, cukup cari satu orang yang kita anggap cukup bijak dan bisa menjadi penengah. Boleh kok cerita masalah kita ke banyak orang, tapi setelah ketemu jalan keluar, jadi orang lain bisa turut dapat inspirasi.
3.          Coba introspeksi diri!
Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik curiga dulu: Jangan-jangan gue-lah penyebab masalah ini timbul? Sikap menyalahkan pihak lain membuat diri kita seolah-olah korban dan enggan untuk introspeksi.
4.          Tanyakan: Apakah masalah ini bisa bikin gue lebih dekat dengan Allah atau malah lebih jauh?
Tiap masalah sebenarnya berpotensi mendekatkan diri kita pada Allah, Sob. Jangan sampe kita rugi: Udahlah dapet masalah, menjauh dari Allah pula. Padahal Allah merupakan sumber segala solusi. So, kalau ketemu masalah… mustinya zikir kita lebih banyak, shalat lebih khusyu, puasa lebih sering, agar hati kita lebih lapang, dan segenggam masalah yang ditabur dalam hidup kita tidak terasa terlalu ‘asin atau pahit’!
5.          Ingatkan diri sendiri: Allah tidak pernah membebani di luar batas kesanggupan kita!
Kalau kita mengimani ayat Allah yang satu ini, kita pasti tidak akan merasa masalah yang dihadapi terlalu berat atau terlalu besar. Bahkan kalau masalahnya memang benar-benar besar, kita harusnya merasa bangga… berarti Allah telah mengakui kita berjiwa besar yang sanggup menangani masalah besar!
6.          Pelajari cara orang-orang besar dalam menghadapi masalah!
Kisah para Nabi, sahabat, orang-orang sukses lainnya, mungkin bisa menginspirasi kita agar tidak melulu fokus pada masalah yang dihadapi, melainkan fokus menemukan jalan keluar!

Yakin deh Sob… sebenarnya gak ada masalah yang terlalu besar, barangkali jiwa dan hati kita yang masih kurang luas. So, yuk lapangkan hati kita agar sebanyak apapun ‘garam yang ditabur’, hanyalah menambah gurih dan sedapnya pengalaman hidup yang kita alami.

Sumber : annida-online.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Baut

Oasis

Tapak Kecil