Kamis, 18 Oktober 2012

Ngeluh!

Sobat  pernah dengar kisah yang satu ini:
Ada seorang Nabi yang telah beribadah terus-menerus selama 50 tahun. Kemudian Allah mewahyukan padanya bahwa sesungguhnya Allah telah mengampuninya.
Nabi itu malah berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau harus mengampuni aku sedang aku tidak pernah berbuat dosa sama sekali?"
Lalu Allah memerintahkan sebuah urat dan didenyutkanlah padanya. Semalaman ia tidak bisa tidur, sehingga datanglah Malaikat pagi dan dia mengadukan kepada malaikat tersebut mengenai denyutan urat itu.
Malaikat tersebut berkata: "Sesungguhnya ibadah 50 tahun tidak bisa mengimbangi keluhan atas urat itu."
Masyaa Allah. 'Hangus' deh ibadahnya selama 50 tahun hanya karena satu keluhannya.
Kisah tersebut bisa Sobat  baca sendiri dalam buku "Di Balik Ketajaman Mata Hati" karya Imam Al Ghazali. Apa pendapat Sobat  mengenai kisah tersebut?
Kalau orang yang bersikap pesimis, sudah pasti akan bete baca kisah di atas. "Whaatt? Ibadah 50 tahun berturut-turut gak sepadan dengan sebuah keluhan? Aje gile. Mending sekalian gue ga usah ibadah aja dah." (Walahh... Salah kaprah ini)
Sedangkan kalau orang yang optimis, cara pandangnya berbeda 180 derajat Sob dalam menanggapi kisah tersebut. Orang optimis dan positif akan menanggapi begini:
"Whaatt? Kalo gitu ceritanya, berarti tiap gue bisa nahan untuk tidak mengeluh, seolah-olah gue udah ibadah lebih dari 50 tahun doong! Wah, enak bener... Kalo gitu gue sanggup dah nggak ngeluh, daripada musti ibadah 50 tahun berturut-turut." Ahayy!
Tapi, apa bener menahan diri dari keluhan itu gampang Sob? Beuh... Siapa bilang gampang?
Kita cuma kelamaan nunggu angkot lewat aja udah mengeluh. Langsung update status di FB en BBM, "Amit-amit dah sopir angkot lama bener sih lewatnya, gue udah gerah tauk!" Itu udah terhitung satu keluhan. (Wow, sering banget yaah kita begini)
Begitu kepala terasa cenut-cenut sedikit aja, langsung deh ngomong ke semua orang. "Kepala gue serasa mau pecaah!" (sering jugaa)
Pas dapat pendamping hidup gak sesuai dengan keinginan, kita ngeluh lagi. "Huuff... Kenapa sih Allah ngasih gue jodoh kayak gini, udah jelek, miskin, tukang ngomel pula!"
Orangtua nyuruh kita ini-itu, kita ngedumel, ngeluh.
Lagi seru-serunya nonton sepak bola, tiba-tiba mati lampu. Byaarr pett. Kita ngeluh juga.
Pulang ke rumah tiba-tiba hujan turun deras, kita ngeluh lagi.
Cape deeh. Tiada hari tanpa keluhan. Ampyuun, segitu susahnya lho nahan untuk tidak mengeluh Sob. Terang aja kalau Allah memadankan ibadah 50 tahun dengan 1 keluhan.
Padahal kalau kita mau merenung, nikmat Allah yang mana sih yang bisa kita dustakan? Kalau setiap nafas yang kita hirup, setiap tetes darah kita yang mengalir, dan setiap helai rambut yang tumbuh di kepala kita, oleh Allah diberi tarif. Wow... Berapa Trilyun kah utang kita pada Allah?
Lha kita aneh bener kan... sudahlah 'ngutang' bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan, eeh... begitu dikasih sedikit kesulitan aja langsung ngeluh. Apakah pantas Allah menerima komplain dari kita atas kehendak-Nya?
Masih di buku karya Imam Al Ghazali, tercantum sebuah hadits Qudsi: Allah Swt. Berfirman, "Barang siapa yang tidak puas dengan ketentuan-Ku, dan tidak bersyukur kepada pemberian-Ku, hendaklah dia mencari Tuhan selain Aku."
Astaghfirullah, Sobat ... Gak main-main ternyata yang namanya keluhan itu. Dengan mengeluh berarti kita tidak menerima Qadha Allah, dengan mengeluh berarti kita tidak beriman pada firman Allah yang menyatakan bahwa Ia yang paling mengetahui segala sesuatu, termasuk yang terbaik untuk diri kita.
Tidak peduli apapun keadaan kita saat ini, itulah yang terbaik untuk kita. Entah itu jenis kelamin kita, kondisi orangtua kita, warna kulit kita. Semuanya adalah ketentuan yang terbaik Allah beri untuk diri kita. Tentu saja ada pengecualian untuk hal-hal yang masih diperbolehkan kita ubah dengan usaha, misalnya kalau kita miskin yaa musti bekerja keras dan cerdas biar bisa jadi kaya. Kalau kita bodoh, kita diharuskan belajar biar jadi pintar.
So, kita musti berjuang untuk tidak gampang mengeluh nih Sob. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan godaan keluhan?
1. Berteman dengan orang-orang yang tidak suka mengeluh.
Ini berpengaruh cukup signifikan, kalo temen-temen deket kita pada alay, lebay dan doyan ngeluh, kita pasti ketuleran.
2. Segera beristighfar begitu mengeluh
Satu dosa bisa dihapuskan dengan kebaikan-kebaikan, termasuk dengan zikir. Makanya jangan pelit zikir yuk Sob. Bukan Allah yang perlu disanjung en dizikirin sama kita kok, sebaliknya... Kita yang butuh mengingat dan memuji-Nya.
3. Sadar bahwa mengeluh tidak menambah nikmat sama sekali, dan mengeluh juga tidakmengurangi penderitaan. Dijamin 100%!
Ada gitu orang yang ngeluh, "Duuh bokap gue pelit amaat..." trus tiba-tiba bokapnya jadi dermawan? Nggak kan? Jadi mengeluh tuh gak mengubah apapun jadi lebih baik toh?
4. Mengeluh Sebagian Dari Kufur
Wadduh, kalau kita mengeluh, berarti kita mengingkari nikmat Allah yang ada pada diri kita. Soalnya kalau kita ngeluh tuh seolah-olah penderitaan yang Allah kasih lebih banyak dari kenikmatan yang Ia beri. Padahal kenikmatan satu bola mata yang Allah beri untuk kita saja tidak bisa kita bayar dengan beribadah seumur hidup kita Sob.
5. Ketika mengeluh, iringi dengan bersyukur
Emang bisa? Yaa bisa aja. Namanya ngeluh kan kadang nggak bisa dikontrol. Misalnya kaki kita ketiban rak buku, otomatis kita bakal ngejerit kan? "Wadaaauww... Amit-amit sakiiit bangeeets." Trus kita nyadar kalau itu ngeluh, tambahin deh, "Alhamdulillah cuma ketiban rak buku, bukan kelindes kontainer..." Jadi ngeluh dan syukurnya minimal imbang gitu loh Sob.
Asal mau berusaha menghindari keluhan atau 'menibannya' dengan kesyukuran, Allah pasti memberi nilai untuk upaya kita.
Semoga Allah memudahkan kita untuk bersyukur dan menyulitkan kita untuk mengeluh. Aamiin.
Sumber : annida-online.com


0 komentar:

Posting Komentar

 

Baut

Oasis

Tapak Kecil