Beda
itu Rahmat, Bukan Laknat
Sobat,
tanpa disadari... kita sering kali bertindak konyol dengan membenci orang lain
yang berbeda dengan kita.
Misalnya,
kita benci pada orang yang berbeda agama dengan kita, seolah-olah orang yang berbeda
keyakinan itu tidak boleh ada di muka bumi ini. Kalau memang Islam mengajarkan
kita untuk membenci umat Agama lain, bukankah seharusnya Rasulullah Saw. tidak
perlu memedulikan seorang Yahudi buta yang selalu menghinanya?
Faktanya,
Rasulullah justru merawat Yahudi buta itu sampai akhir hayatnya, bahkan tanpa
memberitahu identitas dirinya. Artinya, Rasulullah Saw. tidak mencontohkan kita
untuk membenci Umat lain. Lha... Mengapa kita harus alergi dengan orang yang
berbeda agama? Bahkan memberi senyum pada mereka pun kita sungkan.
Apakah
kita akan mendapat pahala jika bermuka masam pada orang beragama lain? Ataukah
mereka akan merasakan keindahan Islam dengan melihat tampang jutek yang kita
pasang tiap berpapasan dengan mereka?
Tidak
hanya itu, lebih konyol lagi... Kita sering membenci orang yang berbeda
penampilan dengan kita. Kita benci dengan orang yang bercadar, kita anggap
mereka lebay. Kita benci dengan orang yang pakai rok mini, kita anggap mereka
ahli neraka. Lantas apakah diri kita sudah terjamin sebagai ahli syurga?
Padahal
Islam tidak pernah mengajarkan semangat kebencian sewaktu melihat perbedaan,
tetapi justru Islam memerintahkan kita untuk memupuk semangat saling
mengingatkan dan menasehati.
Kalau
memang mengenakan rok mini itu keliru, beri pencerahan pada mereka, beri ruang
untuk diskusi, bukan malah men-cap dan menjauhinya. Ceritakan bahwa memakai rok
mini sama dengan mempermalukan diri sendiri, karena rok mini dirancang agar
seorang lelaki mudah berhubungan intim dengan perempuan yang mengenakannya.
Jadi jangan bangga pakai rok mini, karena itu sama seperti menjadikan diri
sendiri objek nafsu birahi kaum lelaki. Bisa jadi mereka belum mengetahui hal
tersebut.
Sobat ,
sesungguhnya membenci orang yang berbeda penampilan dengan kita sama seperti
berlaku sombong. Siapapun kita. Kalau kita berpakaian muslimah yang modis, yaa
tidak perlu menganggap selain kita tuh kampungan. Demikian juga yang mengenakan
pakaian hijab yang terjulur panjang, tidak perlu menganggap selain hijab yang
kita pakai ini gak benar. Setuju gak? Karena setiap orang kan memiliki tingkat
pemahaman yang berbeda-beda, dan Allah tidak pernah membebani seseorang lebih
dari kesanggupannya.
Jadi,
cukuplah Allah sebagai hakim yang paling adil, gak perlu kita ikut-ikutan
menjudge seseorang itu kafir, ahli bid'ah, ahli neraka dan sebagainya hanya
karena orang tersebut berbeda penampilan dan beda pandangan dengan kita.
Sesungguhnya
perbedaan bukanlah laknat, melainkan rahmat dari Allah. Akan tetapi kebencian
kita terhadap perbedaan itulah yang membuat perbedaan seolah berubah menjadi
laknat.
Agar
Beda Tak Jadi Kendala
Trus
bagaimana doong kalau kita sudah keburu merasa nggak nyaman pada orang-orang
yang berbeda dengan kita.
Nah,
ada beberapa sikap yang perlu kita perhatikan nih Sob:
1. Kunci: Jauhi Sifat Iblis!
Sobat ,
satu kata kunci dalam menghadapi perbedaan adalah: Jangan pernah merasa lebih
baik dari yang lainnya! Karena merasa lebih baik adalah penyebab Iblis
dihinakan oleh Allah dan diusir dari syurga, Sob.
Boleh
saja kita merasa baik, tapi jangan sampai merasa lebih baik apalagi memandang
remeh pihak lain yang kita anggap berbeda.
"Iblis
berkata: Aku lebih baik daripadanya. Kau ciptakan aku dari api, sedang Engkau
ciptakan dia dari tanah." (Q.s. Shad: 76)
Lha...
Kalau kita menyatakan diri kita lebih baik dari orang lain, apa bedanya kita
dengan Iblis yang angkuh? Ganti perasaan "superior" dan "lebih
baik" itu dengan rasa syukur.
"Terimakasih
yaa Allah telah menciptakanku seperti saat ini, semoga Allah senantiasa
memperbaiki diriku dan jauhkanlah aku dari rasa sombong yang menghinakan!"
Begitu kira-kira.
Jangan
sampai perbedaan menggelincirkan kita pada rasa angkuh. Merasa bahwa kita dan
kelompok kita lebih baik daripada kelompok lainnya. Semangat kesombongan
seperti ini malah membuat kita semakin jauh dari amar ma'ruf nahi munkar dan
perbaikan diri. Betul gak?
2. Hindari Konflik Hanya karena Perbedaan
Remeh
Sobat ,
banyak orang berselisih hanya karena perbedaan pendapat yang remeh dan nggak
esensi. Seolah-olah hal tersebut masalah besar yang harus dituntaskan.
Misalnya, lebih baik makan pakai lima jari ataukah pakai sendok? Karena
dua-duanya sebenarnya nggak sesuai sunah, Rasulullah Saw. kan makan dengan
menggunakan tiga jari saja.
Nah
loh, apa untungnya mendebatkan hal seperti ini? Tentu saja yang nggak beres
adalah orang yang makan tanpa mengucap bismillah. Ya kan?
Banyak
juga yang berdebat hebat hanya karena celana mengatung, telunjuk yang
berputar-putar saat tahiyat, ataupun manset yang terlupa dipakai. Apakah
hal-hal tersebut jika dibahas dapat mengurangi tingkat korupsi, degradasi
moral, angka kriminalitas atau jumlah kemiskinan yang sedang melilit umat saat
ini? Kalau tidak banyak gunanya untuk umat, tolong jangan dipermasalahkan!
Rasulullah
Saw. Telah berpesan: "Permudah jangan persulit! Gembirakan jangan bikin
mereka lari!"
Artinya,
Islam menyuruh kita untuk tidak membesar-besarkan hal yang tidak bersifat
esensi. Jadikan segala sesuatu simpel dan mudah. Kalau cuma masalah beda hari
raya, beda doa qunut, beda gaya bercelana, beda model jilbab, bikin sesama umat
ribut, yaa bisa semrawut!
Sama
seperti keributan yang terjadi dalam rumah tangga, sering kali penyebab
perceraian hanya hal sepele loh, Sob. Misalnya perbedaan kebiasaan, suami
terbiasa tidur dimatikan lampu, istri terbiasa tidur dengan lampu nyala,
akhirnya ribut. Suami terbiasa naro barang sembarangan, istrinya tidak senang
berantakan, ribut lagi. Padahal perbedaan-perbedaan tersebut tidak bersifat
esensial.
Yuk
kita kurangi konflik untuk perbedaan-perbedaan yang tidak bersifat prinsip!
3. Perbedaan bukan untuk disamakan,
melainkan disatukan
Satu
lagi cara pandang yang harus diperbaiki. Perbedaan ada bukan untuk disamakan
Sob! Kan tidak mungkin buaya disuruh sama seperti macan, orangutan disuruh
menjadi seperti macan, burung kakatua disuruh kayak macan juga. Perlu diingat
bahwa perbedaan bukan untuk disamakan! Masa sih semua orang harus sama
pendapatnya dengan kita, semua orang harus samain kebiasaan kayak kita. Wah,
repot tuh!
Yang
oke adalah menyatukan perbedaan. Ibarat menyatukan macan, buaya, orangutan, dan
burung kakatua ke dalam sebuah tempat bernama kebun binatang. Jadinya meskipun
berbeda, tapi perbedaan tersebut malah bikin "kaya" variasi. Bahasa
kerennya: Bhinneka tunggal ika. Biarpun berbeda-beda, tapi tetap satu! Coba
kalau Indonesia hanya terdiri dari satu suku bangsa, satu adat, satu tradisi.
Gak seru banget kan?
Jadi,
jangan cari penyakit dengan berharap dapat menyamakan perbedaan yang ada. Itu
seperti menentang sunatullah Sob!
4. Buka ruang untuk diskusi, bukan
berdebat!
Sobat ,
hal lain yang membuat perbedaan menjadi masalah adalah kita sering kali membawa
perbedaan ke ruang debat, bukan ke ruang diskusi.
Apa sih
bedanya?
Diskusi
tuh lebih berfokus pada solusi, Sob. Sedangkan debat biasanya malah bikin
konflik makin hebat, karena dalam perdebatan... tiap orang saling
mempertahankan pendapat.
Debat
seharusnya menjadi cara terakhir dalam menghadapi perbedaan, karena debat
sering memancing pertengkaran.
Ketika
menemukan perbedaan yang berpotensi menimbulkan perselisihan, harus segera
dikomunikasikan Sob! Jangan sekedar didiamkan karena nantinya bakal seperti api
dalam sekam. Coba diskusikan dengan hati lapang dan pikiran terbuka, insya
Allah akan menemukan solusinya.
5. Tonjolkan persamaan, bukan perbedaan!
Sobat ,
setiap orang akan merasa dekat dan baru bisa saling berempati kalau merasa
"sama". Jadi, persamaan merupakan jembatan untuk jurang perbedaan
yang sering kita gali sendiri.
Misalnya,
kita nggak dekat sama seseorang karena kita merasa beda karakter sama orang
tersebut. Kita senang berbagi, sedangkan dia pelit. Perbedaan ini sering bikin
kita ngerasa bete ke dia.
Nah,
coba deh cari persamaan antara kita dengan orang tersebut. Misalnya, ternyata
kita dan dia sama-sama suka warna ungu. Sama-sama suka makan bakso. Sama-sama
suka dengar nasyid. Sama-sama hobi baca buku Motivasi. Ingat selalu persamaan
itu! Insya Allah akan mereduksi perasaan bete yang sering bercokol di hati.
Sobat ,
ini dia rumus gampang yang perlu dipraktekkan:
Kalau
mau banyak teman, cari dan tonjolkan persamaan!
Kalau mau banyak musuh, cari dan tonjolkan perbedaan!
Kalau mau banyak musuh, cari dan tonjolkan perbedaan!
Beda,
No Problem
Jangan
lagi kita kesal karena perbedaan! Justru kalau semua orang sama seperti kita,
hidup ini ga bakalan berwarna Sob. Percaya deh...
Karena
perbedaan lah kita bisa saling melengkapi.
Karena
perbedaan lah kita bisa saling menghargai.
Karena
perbedaan lah kita bisa saling memberi arti.
Karena
perbedaan lah kita belajar untuk saling memahami.
Beda?
No problem! (Syamsa)
Sumber : http://www.annida-online.com
08.21
Unknown



0 komentar:
Posting Komentar