Rabu, 10 Oktober 2012

Beda, No Problem


Beda itu Rahmat, Bukan Laknat
Sobat, tanpa disadari... kita sering kali bertindak konyol dengan membenci orang lain yang berbeda dengan kita.
Misalnya, kita benci pada orang yang berbeda agama dengan kita, seolah-olah orang yang berbeda keyakinan itu tidak boleh ada di muka bumi ini. Kalau memang Islam mengajarkan kita untuk membenci umat Agama lain, bukankah seharusnya Rasulullah Saw. tidak perlu memedulikan seorang Yahudi buta yang selalu menghinanya?
Faktanya, Rasulullah justru merawat Yahudi buta itu sampai akhir hayatnya, bahkan tanpa memberitahu identitas dirinya. Artinya, Rasulullah Saw. tidak mencontohkan kita untuk membenci Umat lain. Lha... Mengapa kita harus alergi dengan orang yang berbeda agama? Bahkan memberi senyum pada mereka pun kita sungkan.
Apakah kita akan mendapat pahala jika bermuka masam pada orang beragama lain? Ataukah mereka akan merasakan keindahan Islam dengan melihat tampang jutek yang kita pasang tiap berpapasan dengan mereka?
Tidak hanya itu, lebih konyol lagi... Kita sering membenci orang yang berbeda penampilan dengan kita. Kita benci dengan orang yang bercadar, kita anggap mereka lebay. Kita benci dengan orang yang pakai rok mini, kita anggap mereka ahli neraka. Lantas apakah diri kita sudah terjamin sebagai ahli syurga?
Padahal Islam tidak pernah mengajarkan semangat kebencian sewaktu melihat perbedaan, tetapi justru Islam memerintahkan kita untuk memupuk semangat saling mengingatkan dan menasehati.
Kalau memang mengenakan rok mini itu keliru, beri pencerahan pada mereka, beri ruang untuk diskusi, bukan malah men-cap dan menjauhinya. Ceritakan bahwa memakai rok mini sama dengan mempermalukan diri sendiri, karena rok mini dirancang agar seorang lelaki mudah berhubungan intim dengan perempuan yang mengenakannya. Jadi jangan bangga pakai rok mini, karena itu sama seperti menjadikan diri sendiri objek nafsu birahi kaum lelaki. Bisa jadi mereka belum mengetahui hal tersebut.
Sobat , sesungguhnya membenci orang yang berbeda penampilan dengan kita sama seperti berlaku sombong. Siapapun kita. Kalau kita berpakaian muslimah yang modis, yaa tidak perlu menganggap selain kita tuh kampungan. Demikian juga yang mengenakan pakaian hijab yang terjulur panjang, tidak perlu menganggap selain hijab yang kita pakai ini gak benar. Setuju gak? Karena setiap orang kan memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda, dan Allah tidak pernah membebani seseorang lebih dari kesanggupannya.
Jadi, cukuplah Allah sebagai hakim yang paling adil, gak perlu kita ikut-ikutan menjudge seseorang itu kafir, ahli bid'ah, ahli neraka dan sebagainya hanya karena orang tersebut berbeda penampilan dan beda pandangan dengan kita.
Sesungguhnya perbedaan bukanlah laknat, melainkan rahmat dari Allah. Akan tetapi kebencian kita terhadap perbedaan itulah yang membuat perbedaan seolah berubah menjadi laknat.

Agar Beda Tak Jadi Kendala
Trus bagaimana doong kalau kita sudah keburu merasa nggak nyaman pada orang-orang yang berbeda dengan kita.
Nah, ada beberapa sikap yang perlu kita perhatikan nih Sob:

1. Kunci: Jauhi Sifat Iblis!
Sobat , satu kata kunci dalam menghadapi perbedaan adalah: Jangan pernah merasa lebih baik dari yang lainnya! Karena merasa lebih baik adalah penyebab Iblis dihinakan oleh Allah dan diusir dari syurga, Sob.
Boleh saja kita merasa baik, tapi jangan sampai merasa lebih baik apalagi memandang remeh pihak lain yang kita anggap berbeda.
"Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya. Kau ciptakan aku dari api, sedang Engkau ciptakan dia dari tanah." (Q.s. Shad: 76)
Lha... Kalau kita menyatakan diri kita lebih baik dari orang lain, apa bedanya kita dengan Iblis yang angkuh? Ganti perasaan "superior" dan "lebih baik" itu dengan rasa syukur.
"Terimakasih yaa Allah telah menciptakanku seperti saat ini, semoga Allah senantiasa memperbaiki diriku dan jauhkanlah aku dari rasa sombong yang menghinakan!" Begitu kira-kira.
Jangan sampai perbedaan menggelincirkan kita pada rasa angkuh. Merasa bahwa kita dan kelompok kita lebih baik daripada kelompok lainnya. Semangat kesombongan seperti ini malah membuat kita semakin jauh dari amar ma'ruf nahi munkar dan perbaikan diri. Betul gak?

2. Hindari Konflik Hanya karena Perbedaan Remeh
Sobat , banyak orang berselisih hanya karena perbedaan pendapat yang remeh dan nggak esensi. Seolah-olah hal tersebut masalah besar yang harus dituntaskan. Misalnya, lebih baik makan pakai lima jari ataukah pakai sendok? Karena dua-duanya sebenarnya nggak sesuai sunah, Rasulullah Saw. kan makan dengan menggunakan tiga jari saja.
Nah loh, apa untungnya mendebatkan hal seperti ini? Tentu saja yang nggak beres adalah orang yang makan tanpa mengucap bismillah. Ya kan?
Banyak juga yang berdebat hebat hanya karena celana mengatung, telunjuk yang berputar-putar saat tahiyat, ataupun manset yang terlupa dipakai. Apakah hal-hal tersebut jika dibahas dapat mengurangi tingkat korupsi, degradasi moral, angka kriminalitas atau jumlah kemiskinan yang sedang melilit umat saat ini? Kalau tidak banyak gunanya untuk umat, tolong jangan dipermasalahkan!
Rasulullah Saw. Telah berpesan: "Permudah jangan persulit! Gembirakan jangan bikin mereka lari!"
Artinya, Islam menyuruh kita untuk tidak membesar-besarkan hal yang tidak bersifat esensi. Jadikan segala sesuatu simpel dan mudah. Kalau cuma masalah beda hari raya, beda doa qunut, beda gaya bercelana, beda model jilbab, bikin sesama umat ribut, yaa bisa semrawut!
Sama seperti keributan yang terjadi dalam rumah tangga, sering kali penyebab perceraian hanya hal sepele loh, Sob. Misalnya perbedaan kebiasaan, suami terbiasa tidur dimatikan lampu, istri terbiasa tidur dengan lampu nyala, akhirnya ribut. Suami terbiasa naro barang sembarangan, istrinya tidak senang berantakan, ribut lagi. Padahal perbedaan-perbedaan tersebut tidak bersifat esensial.
Yuk kita kurangi konflik untuk perbedaan-perbedaan yang tidak bersifat prinsip! 

3. Perbedaan bukan untuk disamakan, melainkan disatukan
Satu lagi cara pandang yang harus diperbaiki. Perbedaan ada bukan untuk disamakan Sob! Kan tidak mungkin buaya disuruh sama seperti macan, orangutan disuruh menjadi seperti macan, burung kakatua disuruh kayak macan juga. Perlu diingat bahwa perbedaan bukan untuk disamakan! Masa sih semua orang harus sama pendapatnya dengan kita, semua orang harus samain kebiasaan kayak kita. Wah, repot tuh!
Yang oke adalah menyatukan perbedaan. Ibarat menyatukan macan, buaya, orangutan, dan burung kakatua ke dalam sebuah tempat bernama kebun binatang. Jadinya meskipun berbeda, tapi perbedaan tersebut malah bikin "kaya" variasi. Bahasa kerennya: Bhinneka tunggal ika. Biarpun berbeda-beda, tapi tetap satu! Coba kalau Indonesia hanya terdiri dari satu suku bangsa, satu adat, satu tradisi. Gak seru banget kan?
Jadi, jangan cari penyakit dengan berharap dapat menyamakan perbedaan yang ada. Itu seperti menentang sunatullah Sob!

4. Buka ruang untuk diskusi, bukan berdebat!
Sobat , hal lain yang membuat perbedaan menjadi masalah adalah kita sering kali membawa perbedaan ke ruang debat, bukan ke ruang diskusi.
Apa sih bedanya?
Diskusi tuh lebih berfokus pada solusi, Sob. Sedangkan debat biasanya malah bikin konflik makin hebat, karena dalam perdebatan... tiap orang saling mempertahankan pendapat.
Debat seharusnya menjadi cara terakhir dalam menghadapi perbedaan, karena debat sering memancing pertengkaran.
Ketika menemukan perbedaan yang berpotensi menimbulkan perselisihan, harus segera dikomunikasikan Sob! Jangan sekedar didiamkan karena nantinya bakal seperti api dalam sekam. Coba diskusikan dengan hati lapang dan pikiran terbuka, insya Allah akan menemukan solusinya.

5. Tonjolkan persamaan, bukan perbedaan!
Sobat , setiap orang akan merasa dekat dan baru bisa saling berempati kalau merasa "sama". Jadi, persamaan merupakan jembatan untuk jurang perbedaan yang sering kita gali sendiri.
Misalnya, kita nggak dekat sama seseorang karena kita merasa beda karakter sama orang tersebut. Kita senang berbagi, sedangkan dia pelit. Perbedaan ini sering bikin kita ngerasa bete ke dia.
Nah, coba deh cari persamaan antara kita dengan orang tersebut. Misalnya, ternyata kita dan dia sama-sama suka warna ungu. Sama-sama suka makan bakso. Sama-sama suka dengar nasyid. Sama-sama hobi baca buku Motivasi. Ingat selalu persamaan itu! Insya Allah akan mereduksi perasaan bete yang sering bercokol di hati.
Sobat , ini dia rumus gampang yang perlu dipraktekkan:
Kalau mau banyak teman, cari dan tonjolkan persamaan! 
Kalau mau banyak musuh, cari dan tonjolkan perbedaan!

Beda, No Problem
Jangan lagi kita kesal karena perbedaan! Justru kalau semua orang sama seperti kita, hidup ini ga bakalan berwarna Sob. Percaya deh...
Karena perbedaan lah kita bisa saling melengkapi.
Karena perbedaan lah kita bisa saling menghargai.
Karena perbedaan lah kita bisa saling memberi arti.
Karena perbedaan lah kita belajar untuk saling memahami.
Beda? No problem! (Syamsa)

Sumber : http://www.annida-online.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Baut

Oasis

Tapak Kecil